Guru Besar Komunikasi Organisasi, Dosen Fakultas Penidikan Ekonomi dan Bisnis, Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi, Sekolah Pascasarjana UPI

Sepanjang tahun 2016 yang baru saja berlalu, hal yang paling menjadi sorotan dan patut dijadikan pelajaran berharga bagi kita adalah maraknya berita palsu atau yang lebih dikenal dengan hoax yang tersebar luas dengan mudahnya di kalangan masyarakat daring di Indonesia, berita palsu tersebut tersebar di facebook. Whatsapp, blackberry messanger, twitter dan aplikasi sosial media sejenis lainnya. Cepatnya persebaran berita palsu itu berbanding lurus dengan kemudahan masyarakat mengakses inernet dan media sosial seiring dengan semakin murahnya harga paket data internet yang disediakan penyedia jasa telekomunikasi.

Masyarakat sering tertipu dengan berita tersebut yang biasanya disebarkan melalui broadcast, forward dan share di sosial media. Karakter berita hoax biasanya mengesankan bombastis, berlebihan dan meminta masyarakat pengguna internet untuk langsung menyebarkannya tanpa berpikir panjang, memantik psikologi spontan masyarakat agar langsung menyebarkan berita tersebut tanpa proses berfikir kritis dan megonfirmasi kebenarannya terlebih dahulu. Isinya bertentangan dengan logika umum dan ilmu pengetahuan atau terdapat kontradiksi dengan fakta yang sudah umum diketahui masyarakat kemudian terkadang menggunakan istilah yang terkesan ilmiah yang digunakan untuk memanfaatkan ketidaktahuan atau keawaman pembacanya. Berita hoax biasanya menyangkut dengan isu-isu yang sedang hangat di masyarakat contohnya isu politik, suku, ras agama dan keyakinan, sampai ke ilmu pengetahuan yang sengaja disalahartikan.

Tak pelak berita hoax tersebut banyak menimbulkan keresahan, permusuhan, kebencian yang menjadikan tersebarnya fitnah di kalangan masyarakat semakin mudah terutama dalam hal SARA sehingga pemerintahpun merasa gerah akan hal ini karna sudah  melewati batas kewajaran, membuat instabilitas keadaan berbangsa dan bernegara maka solusinya perlu segera ditindak tegas dan dilakukan edukasi bagi masyarakat.

Pemerintah sebenarnya telah membuat  UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik khususnya Pasal 28 ayat 1 yang menyatakan bahwa Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik. 2 Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), pelaku penyebar berita hoax tersebut baik sengaja ataupun tidak dapat dikenakan pidana melalui pasar anti cyber crime yang ada pada UU ITE tersebut dengan pidana kurungan 6 tahun penjara dan denda 1 Milyar rupiah, namun nampaknya udang—undang ini perlu lebih disiosisialisikan lagi agar masyarakat lebih hati-hati dalam menyebarkan berita dan tahu konsekuensi hukunya.

Salamatul insan fihifdhil lisan, Selamatnya manusia itu dengan menjaga ucapannya begitu Rasulullah bersabda dalam haditsnya.Islam merupakan agama yang komprehensif dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari tatacara masuk ke wc hingga tatacara bernegara, dan juga dalam menerima berita, hal yang saat ini sangat perlu diperhatikan oleh masyarakat terutama karena perkembangan teknologi dan inovasi yang sangat pesat yang bisa menimbulkan efek negatif jika tidak bisa memanfaatkannya dengan baik.

Menyoal berita hoax yang meresahkan. Islam sebenarnya telah mengatur hal ini dalam fikih jurnalistik atau informasi, kita sebagai masyarakat jangan latah dalam membagikan berita, jika itu terjadi bisa saja kita termasuk kedalam orang yang menyebarkan berita fitnah tersebut. Marsaatinya kita menggunkan filter akal sehat dan hati yang bersih. Jika tidak demikian, kita akan termasuk kedalam orang yang celaka karena menyebarkan fitnah yang tidak benar.

Jika kita menerima berita maka langkah pertama yung harus dilakukan adalah meneliti sumber berita itu, apakah berasal dari sumber yang tepercaya atau tidak, jangan langsung menyebarkannya karena barang siapa yang tergesa, maka ia akan celaka (HR. Hakim), jika sumbernya tidak dapat dipercaya dan kredibilitas sumber beritanya masih diragukan, maka segeralah menghapus berita tersebut dan jangan disebarkan. Kemudian jika sudah diteliti dan sumbernya benar, maka berita tersebut jangan langsung disebarkan, kita harus memilah apakah berita itu bermanfaat bagi semua orang atau tidak,  jika tidak bermanfaat bagi orang lain yang akan berpotensi gibah atau menyulut keterseinggungan maka berita itu jangan disebarkan. Namun jika berita itu bermanfaat bagi semua dan sumbernya diketahui kredibilitasnya maka silakan untuk disebarkan dengan niat baik bukan untuk memprovokasi atau yang lainnya.

Cukuplah seseorang dinilai berdusta jika dia memberitakan setiap yang ia dengar (HR Muslim) semoga di awal tahun 2017 yang bertepatan dengan kelahiran nabi Muhammad kita dapat lebih bijak dalam berperilaku dan berkata termasuk berkata menggunakan jari kita di media sosial agar kita tidak menjadi bagian dari orang yang celaka dan sedikit demi sedikit mengamalkan salahsatu sunah Rasul dalam menyaring dan memilih berita atau informasi sehingga kita bisa muslim yang baik menjadi rahmat bagi semesta alam, sehingga Indonesia dapat lebih indah dan damai, aamiin.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *