(Dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Ketua Umum AP3SI dan Pengurus HIPIIS Jawa Barat)

Diskusi yang penulis lontarkan saat mengajar mata kuliah sosiologi politik adalah : Jika anda menjadi warga DKI siapa yang akan dipilih untuk gubernur berikutnya ? Sebagian besar mereka menjawab incumbent  dengan berbagai alasan.  Pertanyaan kedua jika bukan incumbent, siapa kiranya yang anda dukung untuk  maju ke Pilgub DKI? Untuk jawaban ini sudah saya duga mereka tidak rela mendukung  Walikota Bandung, Ridwan Kamil (RK) maju dalam pilkada DKI, alasan mereka bukan  takut kalah tetapi karena  “lebar,  Bandung masih membutuhkannya.

Sekaitan dengan hal tersebut, ada beberapa hal yang ingin saya kemukakan :

Pertama, sebagai warga Bandung yang  selalu ngabandungan, saat ini (RK & Tim) sudah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, setidaknya kesan Bandung sebagai lautan sampah tidak lagi muncul dan lebih dari 100 penghargaan telah diraih. Bandung telah bebenah berupaya kembali membangun puser kaendahan untuk mengembalikan keindahan masa lampau, sehingga Bandung menjadi kota yang diperhitungkan untuk disinggahi.  Hal ini seperti yang kita temukan dalam lirik lagu Bandung : Ari imut-imut Bandung; Kota diriung ku gunung; Dikantun montel katineung; Paanggang muntang kamelan;

Pembangunan yang tengah dilakukan kota Bandung  masih dalam aspek infra struktur kota (sarana dan prasarana), ini nampaknya sebagi strategi awal untuk mencintai Bandung dari aspek luarnya  dulu, karena jika sudah cinta biasanya orang rela berkorban. Taman bertema telah dibangun, semoga bukan hanya tema tanpa makna dan aksi seluruh warga kota. Satu ganjalan penulis dan juga bebearapa orang yang sempat dimintai pendapatnya tentang patung yang berdiri diujung jalan Cihampelas-Abdul Rivai, nampaknya perlu dipikir ulang keberadaannya, karena tidak mengandung makna simbolis yang jelas.  Meskipun tidak dipungkiri pembangunan aspek lainpun sudah mulai dibenahi.

Pembangunan arsitektur kota sebagai strategi awal RK perlu terus dilanjutkan dengan membangun arsitektur manusia yang hidup di dalamnya. Pembangunan manusia dan kemanusiaan,  yang meliputi warga kota, aparatur serta tamu/wisatawan  menjadi Pekerjaan Rumah  RK tahun-tahun mendatang.

Membangun warga bandung meliputi antara lain  bagaimana menumbuhkan partisipasi mereka dalam turut merawat kota (social maintenance) dan membagun aparatur yang solid, bersih dan berwibawa serta membangun  wisatawan dan pendatang lain untuk ikut  melihara Bandung dalam hal keamanan, ketertiban dan kebersihan. Pembangunan pendidikan, kesejahteraan dan daya beli masyarakat sebagai indikator dari Pembangunan Manusia perlu terus ditingkatkan. Disamping  pekerjaan lain, seperti pembangunan sarana transportasi yang dapat mengurai kemacetan dan  terus  berkordinasi dengan daerah sekitar Bandung (Bandung Raya) untuk mengurai Banjir dan mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi bersama. Serta terus jalin kemitraan Pemerintah Kota, Industri dan Perguruan Tinggi (Triplehelix).

Atas Dasar itu, pilihan bijak untuk RK adalah tetap ngarawat lembur, pantang tugas tak tuntas dan pantang ‘hejo cokor’.

Kedua, Mari kita kembalikan kejayaan kota bandung sebagai puseur kaendahan dengan program juaranya. Juara yang bukan semata bekerja mengejar popularitas apalagi mengejar kekuasaan. Juara yang bukan mengejar tropi atau piagam penghargaan apalagi jika disertai dengan menghalalkan segala cara. Melainkan juara dalam arti sesungguhnya yaitu warga Bandung menjadi orang terdepan yang memiliki keteladanan dan kepedulian terhadap manusia dan lingkungannya  dan memiliki jati diri sebagai urang sunda nu silih asih, silih asah jeung silih asuh dalam membangun lemah cai  sehingga gemah ripah, repeh, rapih, merenah tur tumaninah.

Ketiga, untuk membangun negara  tidak harus datang dan mendekat ke Ibukota, dari manapun di seluruh permukaan bumi Indonesia kita dapat melakukannya, terlebih Bandung secara geografis dekat dengan Jakarta. Sebagi satu sub sistem dari sistem negara secara keseluruhan, tidak ada satu daerah yang tidak penting, dan tidak ada daerah yang dianggap prestisius.   Semuanya berperan dan bergerak dalam satu garis edar yang sama untuk membangun negeri ini.  Karena itu ajakan yang mengatakan, kesempataan tidak akan datang dua kali (untuk mnjadi gubernur DKI) perlu ditinjau lebih jauh, karena membangun DKI sama pentingnya dengan membangun Bandung. Sebagaimana lanjutan lirik lagu Bandung tersebut : Bandung dilingkung gunung; Bandung Sumirat maratan jagat.

Alhasil, pilihan ada pada Kang Emil, namun sebagai urang Bandung saya berharap tetaplah mengabdi untuk negeri dari Bandung. Bandung masih memerlukan pemimpin yang dicintai rakyatya, setidaknya data ini saya ambil dari berbagai media sosial yang memberi dukungan  terhadap RK untuk tetap menjadi walikota Bandung dan menuntaskan semua PRnya. Data PR0nline tanggal 28 Februari juga memperkuat ketidakrelaan warga Bandung jika RK maju ke pilgub DKI,  hasil jajak pendapat tersebut mengharapkan RK tetap membangun Bandung  atau Jawa Barat.

Dan sebagai warga Bandung , marilah kita tidak sekadar ngabandungan  melainkan turut serta membangun Bandung dengan apa yang bisa kita lakukan, karena pembangunan adalah tanggung jawab bersama.***


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *