Sudut Pandang Pelaksanaan Perkuliahan Daring Menjadi Luring Setelah Vaksinasi

Sudah satu tahun lebih wabah COVID-19 melanda Indonesia tercatat sejak tanggal masuk 2 maret 2020. Banyak sekali perubahan yang tejadi dalam kebiasaan aktivitas  yang dilakukan masyarakat untuk dapat menghentikan wabah ini. Bebagai sektor harus beradaptasi dengan Work From Home (WFH) begitupun dengan Pendidikan di Indonesia. Pembelajaran Jarak Jauh (PPJ) dilaksanakan  sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran wabah COVID-19 di Indonesia yang diterapkan pada tanggal 16 Maret 2020 sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah dalam Surat Edaran No. 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan  Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19) dengan begitu pendidikan di Indonesia seluruhnya dilaksanakan secara dalam jaringan (Daring) dari mulai tingkatan TK/PAUD, SD, SMP, SMA/SMK/MA dan Tingkat Perguruan Tinggi.

Pembelajaran daring di lingkungan Perguruan Tinggi paling memungkinkan untuk medapat efektivitas dalam pembelajaran karena bukan hal yang baru di Perguruan Tinggi menerapkan sistem daring [1]. Beberapa Universitas luar Negeri sudah banyak yang menerapkan system daring sebelum terjadinya wabah COVID-19 seperti Oregon State University di Amerika Serikat  menerapkan system daring sejak tahun 2000. Para mahasiswa tentunya dapat menggunakan teknologi dengan benar dalam menunjang perkuliahan akan tetapi pada awal pelaksanaan proses pembelajaran daring di Indonesia tentunya terdapat beberapa hambatan yang dialami oleh para Dosen maupun Mahasiswa seperti kendala  dalam  hal  jaringan  internet  bagi mereka yang tempat tinggalnya ada di pedasaan sehingga sinyalnya tidak stabil yang mengharuskan mereka mencari tempat agar dapat tejangkau oleh sinyal ketika proses pembelajaran berlangsung dan  juga  kendala dalam  hal pelayanan yang  diberikan  Dosen  kepada Mahasiswa dalam menyampaikan materinya hanya memberikan bahan ajar untuk dipelajari kemudian memberikan penugasan untuk dikerjakan hal itu yang dianggap kurang maksimal. [2]

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh kemendikbud untuk mengetahui minat mahasiswa setelah menjalankan perkuliahan daring selama beberpa bulan dari awal diberlakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memmbuktikan bahwa 90% mahasiswa mengnginkan kuliah ofline karena diarasa belum bisa beradaftasi dengan pembelajaran serba daring ini. tidak sedikit Mahasiswa yang menegeluh dengan banyak nya tugas yang diberikan meningkatkan tekanan stress sehingga berpengaruh terhadap penururan imunitas tubuh yang sangat berdampak terhadap penularan wabah COVID-19. Nizam mengatakan, “60 % mahasiswa yang tidak siap dilatar belakangi soal jaringan internet yang lambat. [3]

Seiring berjalanya waktu semuanya mulai dapat beradaptasi dengan sistem pembelajaran daring dan berbagai kendala mulai dapat diatasi. Untuk membantu para mahasiswa yang kesulitan dalam keterbatasan kuota pemerintah memberikan bantuan supsidi kuota setiap bulanya.[4] disamping itu para Dosen terus berinovasi agar dapat menggunakan startegi poembelajaran yang lebih interaktif dengan memanfaatkan berbagai platform dengan maksimal  seperti Google Classrom, Zoom Meet, YouTube, dan lain lain. Tidak sedikit  Mahasiwa yang mulai  nyaman dengan sistem pembelajaran daring ini beberapa keunggulan penerpan system daring yaitu : (1) Belajar tanpa adanya batasan ruang dan waktu; (2) Menghemat biaya dan waktu tempuh menuju tempat belajar; (3) Memiliki banyak referensi belajar dengan mudah; (4) Bertambahnya pengetahuan mengenai teknologi.  

Walaupun demikian sistem daring ini tidak cocok digunakan dalam beberapa mata kuliah yang berlatar belakang praktik karena untuk mencapai kompetensi yang diharapakan mahasiswa harus terjun prkatik kelapangan karena  kompetensi yang dicapai  tidak akan sama jika dilakukan dengan cara simulasi dirumah.[5] Maka dari itu  pro kontra pandangan Mahasiswa sering terjadi  mengenai pelaksanaan perkuliahan daring atau Luring.

Menanggapi Kebijakan yang dikeluarkan oleh kemendikbud  Universitas Indonesia (UI) melakukan survei terhadap kesiapan belajar mengajar kepada Dosen dan Mahasiswa  terkait pembelajaran yang akan dilakukan secara offline pada awal semester genap nanti, Responden survei tersebut dari 14 Fakultas 18.923 mahasiswa dan 1.610 dosen, Berdasarkan data hasil survei terhadap total 20.533 responden tersebut per 15 April 2021 menunjukkan bahwa 4.542 (24%) mahasiswa memilih pembelajaran tatap muka penuh. 5.298 (28%) mahasiswa memilih KBM daring penuh, sedangkan pembelajaran campuran menjadi opsi yang paling banyak dipilih, yaitu  9.083 (48%) mahasiswa. dari survei dosen 1.610 responden yang mengisi, 982 responden 61% memilih blended learning, kemudian pembelajaran daring penuh sebanyak 483 responden 30% sedangkan pembelajaran tatap muka penuh hanya dipilih oleh sisanya 9%. [6]

Sebagian mahasiswa menyarankan hanya matakuliah tertentu saja yang harus tatap muka seperti kuliah yang berorientasi terjun ke lapangan dan pratikum selain itu perlu adanya persiapan yang sangat matang dalam mengatur jadwal  kelas, pengaturan ruangan kapasitas kelas, ruang labolatorium dan mekanisme pengawasn akivitas agar sesuai dengan strander.  Banyak juga yang masih takut terkana covid walaupun sudah di berikan vaksinasi.

Terdapat dua sudut pandang dimana ada mahasiswa yang menginginkan kulian secara Offline dan tidak sedikit juga ingin kuliah online.  untuk menjawab kedua persepsi tersebut kemnedikbud mengeluarkan kebijakan pada semester yang akan datang pembelajaran di perkuliahan akan dililakuakn secara rotasi 50% tatap muka dan 50 % daring dengan demikian untuk keputusan akhir diserahkan kepada Universitas masing-masing untuk mengeluarkan kebijakan terhadap kampus dalam pelaksanaaan pembelajaran.

Jika Pendidikan di indonesia bisa memadukan ke dua hal tersebut tentunya akan menciptakan suasana pendidikan yang baru yang dapat lebih adaptif terhadap pemanfaatan teknologi sebagai fasilitasi para mahasiswa dalam menuntut ilmu. bapak Nadiem Makarim  pernah berkata “kondisi sekarang merupakan peluang yang bisa diambil oleh Pendidikan Indonesia dalam merubah sistem secara alami dalam memadukan pembelajaran konvesional dengan pembelajaran moderen menggunakan teknologi yang nantinya Pendidikan tidak kalah bersaing dengah yang ada diluar negeri.”

Rizki Gunawan, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sistem dan Teknologi (PSTI) Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta. Pengurus aktif LEPPIM UPI Purwakarta 2021.

Daftar Pustaka

Darmayanti, T., Setiani, M. Y., & Oetojo, B. (2007). E-learning pada pendidikan jarak jauh: konsep yang mengubah metode pembelajaran di perguruan tinggi di Indonesia. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh8(2), 99-113

Hutauruk, A. J. (2020). Kendala pembelajaran daring selama masa pandemi di kalangan mahasiswa Pendidikanmatematika: Kajian kualiatatif deskriptif. Sepren2(1), 45-45.

nasional.compas.com (2020). Survei Kemendikbud: 90 Persen Mahasiswa Pilih Kuliah Tatap Muka. https://nasional.kompas.com/read/2020/07/09/12330921/survei-kemendikbud-90-persen-mahasiswa-pilih-kuliah-tatap-muka#:~:text=Survei%20Kemendikbud%3A%2090%20Persen%20Mahasiswa%20Pilih%20Kuliah%20Tatap%20Muka,-Kompas.com%20%2D%2009&text=JAKARTA%2C%20KOMPAS.com%20%2D%20Plt,atau%20tatap%20muka%20di%20kelas. Diakses pada 7 Mei 2020

radioedukasi.kemdikbud.go.id (2021). Kemendikbud: Bantuan Kuota Belajar Tahun 2021 Akan Dilanjutkan. https://radioedukasi.kemdikbud.go.id/read/2681/kemendikbud-bantuan-kuota-belajar-tahun-2021-akan-dilanjutkan.html. Diakses pada 7 Mei 2020

Maulana, H. A., & Hamidi, M. (2020). Persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran daring pada mata kuliah praktik di pendidikan vokasi. Equilibrium: Jurnal Pendidikan8(2), 224-231.

ui.ac.id  (2021). Hasil Survei UI, Dosen dan Mahasiswa UI Pilih Metode Pembelajaran Bauran untuk Semester Depan https://www.ui.ac.id/hasil-survei-ui-dosen-dan-mahasiswa-ui-pilih-metode-pembelajaran-bauran-untuk-semester-depan/. Diakses pada 7 Mei 2020

Leave a Reply