Pemanfaatan Teknologi Sebagai Upaya Mitigasi Bencana Alam

Akhir-akhir ini, Indonesia sangat rawan terjadi bencana alam. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP), pada tahun 2021, per tanggal 19 April 2021 kejadian bencana Indonesia sudah mencapai 1.153 bencana dengan jumlah bencana terbanyak adalah banjir yaitu 487 bencana. Salah satunya adalah banjir bandang dan tanah longsor di NTT. Per tanggal 18 April 2021, korban bencana NTT mencapai 178 jiwa meninggal dunia dan 48 jiwa masih dinyatakan hilang.

Mengapa Indonesia menjadi negara yang rentan terjadi bencana alam? Melansir dari CNN Indonesia, salah satu dosen Universitas Hasanuddin, Adi Maulana menyebutkan bahwa proses terbentuknya kepulauan Indonesia menjadi potensi terjadinya bencana alam. Beliau mengatakan kepulauan Indonesia terbentuk dari pergerakan tektonik yang mengakibatkan lempeng bumi saling menjauh ataupun mendekat dan hal inilah yang menjadi sebab terjadinya bencana alam, seperti gempa bumi, meletusnya gunung berapi, hingga tsunami. Selain itu, iklim tropis dengan musim panas dan hujan di Indonesia tidak selamanya berdampak baik. BNBP juga menyebutkan dalam artikel “Potensi Bencana Alam” bahwa dalam musim panas atau hujan yang berlebihan, dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan kemarau panjang yang bisa saja menimbulkan kebakaran hutan. Di tengah revolusi industri 4.0 ini, hampir seluruh aktivitas dilakukan dengan teknologi. Ditambah kasus COVID-19 yang belum berakhir, membuat masyarakat memanfaatkan sejumlah teknologi termasuk dalam upaya mitigasi bencana alam.

Menurut KBBI, mitigasi adalah tindakan mengurangi bencana. Menurut Fahriyani dkk. (2020), mitigasi bencana adalah upaya yang dilakukan dalam mengurangi risiko dan dampak bencana terhadap masyarakat pada wilayah rawan bencana, baik bencana alam maupun bencana yang disebabkan ulah manusia. Mitigasi bencana harus dikuasai sejak dini dengan cara membina dan mendidik anak-anak melalui lagu atau permainan karena hal tersebut yang berkesan dan mudah diingat oleh anak-anak (Suhardjo, 2015). Namun, pada saat ini anak-anak cenderung sudah mengetahui teknologi seperti media sosial dibandingkan melalui pendidikan atau pembinaan. Maka dari itu, teknologi sebisa mungkin harus dapat memberikan informasi-informasi positif dan memfilter informasi-informasi yang kurang mendidik untuk generasi mendatang. Beberapa teknologi yang dimanfaatkan sebagai upaya mitigasi adalah sosial media, Internet of Things (IoT), dan lain-lain.

Pemanfaatan Sosial Media

Salah satu sosial media yang dipakai dalam sosialisasi mitigasi bencana adalah Twitter. Pengguna dapat berkomunikasi dan saling bertukar informasi atau pendapat dengan pengguna lain melalui cuitan twitter. Menurut Liliweri (dalam Fahriyani dkk., 2020), twitter termasuk ke dalam 5 besar sosial media (The Big 5 of Social Media) dan berada pada urutan ke-2 setelah Facebook. Lembaga penanggulangan bencana, BNBP juga memanfaatkan sosial media twitter untuk memberikan informasi seputar bencana alam, seperti informasi bencana yang terjadi dan mitigasi bencana (pra dan pasca). Saat ini, BNBP memiliki 398,8 ribu pengikut di twitter, hal ini tentu saja berdampak positif bagi masyarakat dalam mengetahui informasi-informasi terkini mengenai bencana alam. Berikut contoh informasi yang diberikan oleh BNBP melalui twitter. Selain BNBP, infomasi-informasi mengenai bencana alam juga bisa diperoleh melalui akun twitter BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika). Berikut contoh informasi yang diberikan oleh BMKG seputar mitigasi pasca bencana gempa bumi.

Selain lembaga-lembaga resmi, para pengguna twitter juga seringkali membagikan informasi-informasi berupa utas mengenai penanggulangan bencana, seperti kegiatan antisipasi gempa bumi, tsunami, dan lain-lain. Hal ini tentu saja sangat baik untuk pengetahuan masyarakat karena secara langsung utas tersebut dijadikan sebagai kegiatan sosialisasi bencana secara online. Selain twitter, sosial media lain yang dapat dijadikan referensi sebagai mitigasi bencana adalah youtube. Banyak sekali video-video informasi yang di-upload untuk mengedukasi masyarakat. Contohnya, video mitigasi bencana gempa bumi yang di-upload oleh akun youtube BNBP Indonesia. Lalu, ada aplikasi TikTok yang sangat populer sejak kasus covid-19 melonjak. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno mengutip data Sensor Tower yang menyebutkan bahwa Indonesia termasuk pengguna Tiktok terbesar keempat dengan jumlah pengguna mencapai 30,7 juta pengguna. Maka dari itu, aplikasi ini dapat dijadikan sebagai sarana sosialisasi penanganan bencana alam karena hampir semua kalangan usia menggunakan Tiktok. Sosial media yang sudah disebutkan diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk penanganan bencana kedepannya agar dampak yang disebabkan dapat diminimalisasi.

Penerapan Early Warning System (EWS)

Pemanfaatan IoT pada mitigasi bencana alam adalah penerapan Early Warning System (EWS) atau peringatan dini. Alat EWS ini digunakan sebagai pemantau potensi bencana alam. Pada kondisi tertentu yang tidak memungkinkan untuk memantau tanda-tanda bencana secara langsung, dibutuhkan sebuah inovasi yang memungkinkan untuk melakukan pemantauan dengan meminimalisasi risiko yang terjadi. Teknologi EWS ini memanfaatkan wireless sensor network dalam pengimplentasiannya sehingga dapat efektif digunakan sebagai alat pemantau melalui sensor network tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Adipradana & Setyawan (2021) dalam menerapkan teknologi EWS di Desa Sambungrejo, Grabag, Magelang, teknologi IoT, GSM, dan wireless sensor network menjadi dasarnya. Mereka memanfaatkan teknologi wireless untuk memperoleh data intensitas hujan dan laju pergeseran tanah dari masing-masing titik yang berpotensi menimbulkan bencana. Dengan adanya teknologi GSM, hasil pantauan data tersebut akan dikirimkan menggunakan layanan SMS ke pihak keamanan desa untuk dikaji lebih lanjut. Apabila hasil kajian berpotensi menimbulkan bencana, pihak keamanan desa akan menginformasikan kepada seluruh masyarakat melalui radio di kantor desa Sambungrejo dan setelah itu akan dilakukan evakuasi masyarakat supaya tidak ada warga yang terdampak bencana tersebut. Dari hasil penelitian tersebut, otomatis wilayah yang akan diterapkan teknologi EWS harus mendukung teknologi GSM. Namun, tidak hanya diinformasikan melalui radio, ada pihak keamanan desa yang berkeliling untuk mengumumkan informasi terkait pengevakuasian masyarakat.

Indonesia termasuk negara yang potensi bencana alamnya besar. Hal ini disebabkan oleh pergerakan tektonik yang membentuk kepulauan Indonesia dan mengakibatkan lempeng bumi mengalami pergerakan sehingga terjadilah bencana alam seperti gempa bumi, longsor, hingga tsunami. Maka dari itu, masyarakat harus mengetahui bagaimana upaya untuk mitigasi bencana alam. Di tengah revolusi industri 4.0, upaya mitigasi bencana alam dapat dilakukan melalui teknologi, salah satunya melalui sosial media dan teknologi IoT. Salah satu jenis sosial media yang menjadi sarana upaya mitigasi bencana adalah twitter, youtube, dan TikTok. Lembaga resmi seperti BNBP dan BMKG memanfaatkan twitter dan youtube untuk memberikan informasi seputar bencana alam, termasuk upaya mitigasi bencana. Selain sosial media, teknologi IoT juga dapat dimanfaatkan sebagai upaya mitigasi. Dengan memanfaatkan wireless dan GSM, sebuah alat peringatan dini (Early Warning System) dapat dibuat. Hal ini tentu saja dapat bermanfaat dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk memantau langsung di lokasi kejadian. Oleh karena itu, teknologi diharapkan dapat membantu masyarakat untuk mengenal upaya-upaya penanganan bencana alam karena dalam beberapa kasus yang sudah beredar, agak sulit menunggu bantuan dari orang lain. Maka dari itu, kita harus dapat menyelamatkan diri sendiri dengan upaya-upaya penanganan bencana yang sudah dipelajari.

Vina Fujiyanti, menempuh pendidikan pada program studi Sistem Telekomunikasi (SISTEL) Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta. Merupakan Anggota LEPPIM UPI Purwakarta.

Daftar Pustaka

Adipradana, A. Y., & Setyawan, H. T. (2021). Penerapan Teknologi Early Warning System (EWS) Berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Sambungrejo, Grabag, Magelang. Community Empowerment, 6(2), 208–215. https://doi.org/10.31603/ce.4281

BNBP. (2017). Potensi Ancaman Bencana. https://bnpb.go.id/potensi-ancaman-bencana

BNBP. (2021). Geoportal Kebencanaan Indonesia. https://gis.bnpb.go.id/

CNN. (2021). Ahli Ungkap Alasan Indonesia Banyak Dilanda Bencana Alam. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210210131713-199-604687/ahli-ungkap-alasan-indonesia-banyak-dilanda-bencana-alam

Fahriyani, S., Harmaningsih, D., & Yunarti, S. (2020). PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TWITTER UNTUK MITIGASI BENCANA DI INDONESIA. Jurnal IKRA-ITH Humaniora, 4(2), 56–65.

Kamil, I. (2021). UPDATE Bencana di NTT: Korban Hilang Bertambah Satu Orang, Total 48. https://nasional.kompas.com/read/2021/04/18/22293611/update-bencana-di-ntt-korban-hilang-bertambah-satu-orang-total-48

Suhardjo, D. (2015). ARTI PENTING PENDIDIKAN MITIGASI BENCANA DALAM MENGURANGI RESIKO BENCANA. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 2, 174–188. https://doi.org/10.21831/cp.v0i2.4226

Leave a Reply