Tak Kunjung Usai, Bencana Alam di NTT Sengaja Diabaikan ?

Tahun 2021 menjadi momentum datangnya kembali bencana banjir bandang yang menerjang Nusa Tenggara Timur. Salah satu titik lokasi bencana diketahui ada di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bencana tersebut terjadi pada dini hari tanggal 4 April 2021 pukul 01.00 WITA. Hujan diketahui melanda Adonara sejak hari Rabu pagi hingga malam. Ketinggian air mulai meningkat sampai puncaknya terjadi banjir bandang. Musibah tersebut telah merenggut ratusan korban jiwa. Berdasarkan data terbaru dari BNPB sebanyak 174 orang meninggal dunia di NTT dan 48 orang masih hilang pada 10 April 2021. BNPB sampai Jumat malam menyatakan sebanyak 14.034 unit rumah terdampak bencana banjir dan longsor di NTT. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.786 rumah mengalami rusak berat, 213 rusak sedang, dan 6.185 rusak ringan. Sampai saat ini tercatat 17.834 warga mengungsi. Kerugian materiil mengiringi kejadian ini. Kerusakan rumah, tertutupnya akses jalan, pohon tumbang, putusnya jembatan, tenggelamnya kapal, dan rusaknya fasilitas umum menambah daftar kerugian yang timbul akibat bencana alam yang menimpa Nusa Tenggara Timur.

Lereng Gunung di Ile Boleng terdiri dari perbukitan yang ditumbuhi hutan tropis sekunder kering, savana, dan perkebunan kelapa. Kawasan ini beresiko terdampak erupsi lahar panas dan lahar dingin karena berada di lereng gunung. Lahar panas diprediksi menghantam kawasan ini ketika gunung meletus menyemburkan lahar dingin. Selain itu, kondisi tanah rawan longsoran pasir turut andil membuat kawasan ini rawan bencana. Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan kabupaten Flores Timur merupakan kawasan permukiman penduduk di Kecamatan Ile Boleng yang masuk dalam kawasan beresiko bencana dan semua kampung  yang ada di lereng gunung Ile Boleng adalah kawasan berisiko tinggi bencana. Kabupaten Flores Timur diketahui memiliki sembilan ancaman bencana yaitu gempa bumi, longsor, banjir, tsunami, abrasi, angin kencang, gunung meletus, cuaca ekstrim dan konflik sosial.

Pemerintah sudah seharusnya mempertimbangkan langkah selanjutnya yang akan segera diambil untuk kebaikan kedepannya. Pemerintah juga diharapkan segera turun tangan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Setidaknya ada dua solusi yang bisa dipilih yaitu mitigasi bencana dan relokasi permukiman. Mitigasi bencana sangat penting untuk segera dilakukan. Kegiatan mitigasi bencana yang harus segera dilakukan secara masif diantaranya menanam pohon yang kuat dan cepat tumbuh, membuat tanggul yang kuat dan tahan lama, membuat saluran dan juga talud untuk mempermudah mengalirkan air sesuai jalurnya saat terjadi bencana. Mitigasi bencana yang seriussangat diperlukan di daerah-daerah rawan bencana ini. Mitigasi bencana yang lemah membuat dampak bencana bencana tidak berkurang bahkan lebih parah juga berakibat pada tingginya jumlah korban jiwa. Merelokasi permukiman ke lokasi yang lebih aman menjadi upaya terakhir yang harus segera dilakukan seandainya mitigasi bencana ini tidak bisa direalisasikan dengan baik dan masih memakan banyak korban jiwa.

Wilayah yang memiliki potensi bencana yang cukup besar dan membahayakan banyak warga yang tinggal disana seharusnya memiliki rencana relokasi yang matang. Resistensi atau kecenderungan masyarakat yang menempati suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu untuk mempertahankan daerah pasti akan terjadi. Apabila rencana relokasi tersebut tidak bisa atau bahkan setelah adanya kegagalan mitigasi bencana akibat penolakan masyarakat dalam wilayah tersebut maka sebagai tindakan antisipasi harus dilakukan penegakan hukum terkait implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah. Penegakan hukum pengendalian pemanfaatan ruang yang menerbitkan izin di lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi sepertinya diperlukan demi mencegah banyaknya korban jiwa yang datang ibarat momok mengerikan. Kemampuan pendanaan pemerintah untuk melakukan kegiatan relokasi ini juga harus dipersiapkan. Selain itu, edukasi terkait bencana kepada masyarakat juga harus dimasifkan agar masyarakat sekitar memahami konsekuensi bahaya yang akan mereka hadapi. Dalam menghadapi bencana yang tidak terprediksi, kesigapan masyarakat adalah kunci agar tidak terenggut lebih banyak korban jiwa. Titik terang harus segera ditemukan agar masyarakat segera mendapat rasa aman dan keselamatan banyak jiwa tidak lagi dipertaruhkan.

Yosita Nadila Rahmi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta. Email yosita.n.rahmi@upi.edu. Anggota LEPPIM UPI Purwakarta.

Daftar Pustaka

Agustina. L 2021.  Badan  Penanggulangan  Bencana   Daerah  Perbaharui  Data  Korban

NTT, Korban Hilang Terus Dioptimalkan. BPBD : bpbd.go.id

Badan Penanggulangan Bencana Daerah. 2011. Indeks Rawan Bencana Indonesia. Badan

Penanggulangan Bencana Daerah Indonesia 2011.Jakarta, 251 hal.

Purnomo, K. 2018. Tiga Hal Yang Harus Dilakukan di daerah Rawan Bencana. [Online]

diakses dari https://properti.kompas.com/read/2018/10/09/210847521/tiga-halharus-dilakukan-di-daerah-rawan-bencana?page=all

Leave a Reply