“Dirawu Kelong”

Sosial

Peneliti Komunikasi Politik

Dosen  FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia

SIARAN langsung pertandingan Persib di salah satu televisi swasta nasional amat menghibur. Kemunculan Persib di layar kaca mana pun akan  menjadi magnet yang memikat kebanyakan warga Jawa Barat.  Setiap Persib bertanding, perbincangan Persib Day menjadi trending topics di media sosial, lapangan tempat pertandingan disesaki penonton, dan jutaan mata warga Jawa Barat tertuju pada layar yang menyiarkan langsung pertandingan Persib. Saat siaran langsung pertandingan Persib, layar televisi lain gelap gulita.

Sayangnya, jam tayang siaran langsung Persib tidak “merenah”, “hara-haraeun”, dan “ngagok amat sih”. Sepanjang perhelatan Piala Presiden digelar, kick off dimulai pukul 18.00 (bahkan saat semi final leg kedua 17.45) dan siaran langsung sudah dimulai 17.30. Jika tempat pertandingan tidak digelar di tempat yang memiliki kesamaan waktu dengan penonton masih bisa dipahami, namun tempat pertandingan di Si Jalak Harupat Soreang Kabupaten Bandung makin menegaskan pembiaran tabrakan waktu menonton Persib dengan waktu shalat Maghrib.

Bagi bonjovi (bobotoh yang nonton di televisi), jam tayang ini masih bisa disiasati. Mandi dan berwudlu sebelum siaran langsung dimulai, lalu mencuri waktu shalat di tengah pertandingan, atau saat water break. Hal ini tidak ideal memang, shalat menjadi tidak khusyu, namun apa daya. Lalu bagaimana dengan mereka yang hadir langsung menyaksikan pertandingan di stadion ?

Mengingat pertandingan Persib (dan mungkin juga klub lain yang memiliki basis pendukung fanatik yang kuat) sudah menjadi “hajat hidup orang banyak”, semestinya panitia penyelenggara dan pemegang hak siar mempertimbangkan waktu pertandingan dengan memperhatikan sekurang-kurangnya dua hal berikut. Kesatu, karena akan disiarkan langsung, jam pertandingan selain harus mempertimbangkan aspek-aspek teknis pertandingan juga wajib mempertimbangkan asas, tujuan, dan arah siaran.

Siaran langsung pertandingan telah memenuhi asas adil dan merata sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran karena dengan siaran langsung berarti memberi kesempatan luas kepada pemirsa untuk menikmati apa yang terjadi di lapangan seketika saat itu juga. Namun waktu pertandingan yang mepet ke waktu shalat Maghrib terasa mengabaikan asas keberagaman (mengabaikan kepentingan mereka yang harus menunaikan ibadah), dan etika (mempertontonkan pengabaian terhadap kewajiban ibadah).

Selain menabrak asas siaran, siaran langsung yang mengabaikan waktu shalat  tidak sejalan dengan tujuan siaran nasional yang antara lain berusaha mewujudkan terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertaqwa (Pasal 3). Sejalan dengan tujuan ini, siaran nasional pun diarahkan untuk menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa (Pasal 5). Bila mencermati asas, tujuan, dan arah penyiaran sebagaimana ditentukan Undang-undang Penyiaran, maka amat beralasan untuk meninjau kembali jam pertandingan yang akan disiarkan langsung, sehingga antusiasme publik menonton pertandingan (baik langsung di stadion maupun melalui siaran televisi) tidak mengganggu  ibadah, dan mempertontonkan pelanggaran terhadap kewajiban beribadah.

Kedua, secara kultural menjelang terbenamnya matahari diasosiasikan sebagai saat masuk rumah, bersiap untuk beribadah, mengaji, dan belajar. Dulu saat temaram datang, atau sareupna, anak-anak yang sedang bermain pun dipanggil pulang oleh ayah dan ibunya, sambil ditakut-takuti “bisi dirawu kelong”.

Kenyatanya, penanaman makna waktu secara budaya bukan hanya terjadi di Jawa Barat, tapi juga dianut di daerah lain di Nusantara. Seperti halnya anak-anak yang dibesarkan di perkampungan Jawa Barat, bocah yang hidup di wilayah Melayu pun dianjurkan masuk rumah saat adzan Maghrib akan berkumandang, sebab jika tidak bisa “ditumbur setan”, sebuah kosa kata yang artinya mirip dengan “dirawu kelong”.

Meski pola hidup sudah jauh berubah, namun nilai-nilai pentingnya waktu shalat masih tertanam kuat di dasar keyakinan warga Jawa Barat dan komunitas lain di Nusantara. Keyakinan beragama membimbing warga dalam memaknai waktu, sekaligus dipraktikan sebagai bentuk edukasi bagi anak-cucunya. Karena itu, jam tayang pertandingan yang  menabrak waktu shalat selain mengganggu ibadah, juga merusak habituasi (pembiasaan) pendidikan nilai yang dipraktikan keluarga-keluarga di tanah air.

Memang menonton Persib hanya perkara mubah saja (boleh ditonton boleh tidak), namun apa hukumnya bila harus mengganggu waktu beribadah karena terpaksa mengikuti kehendak pemegang hak siar. Agar tidak menimbulkan konflik batin berkepanjangan, sungguh elok bila penetapan jam pertandingan ke depan tidak hanya mengkalkulasi sisi bisnis siaran, tetapi juga mempertimbangkan hakikat dan tujuan siaran, waktu ibadah dan budaya warga, serta nilai-nilai yang sudah lumat ke dalam pranata sosial warga.

Pertimbangan tentang aspek-aspek tadi menjadi keniscayaan, karena bagi kebanyakan warga Jawa Barat beribadah dan menonton Persib adalah dua hal yang tidak bisa saling meniadakan. Filosofi “perlu kasambut, sunat kalampah” seperti dopamin yang memenuhi pikiran kebanyakan warga “shalat dengan tenang, menonton dengan senang, dan kemenangan Persib yang sudah di depan mata pun tidak dirawu kelong”.***

*) Tulisan ini pernah dimuat di Pikiran Rakyat 8 Maret 2017 halaman 26.